ARC 2021 : Essay #4

Sudahkah kita mencapai konten ramah anak?

Penulis : Mardiana Ayu safitri

Pendahuluan 

Pada masa pandemi sekarang ini, banyak anak-anak yang menghabiskan waktu mereka menonton tayangan televisi. Televisi merupakan media massa yang memiliki fungsi salah satunya sebagai alat untuk meneruskan informasi kepada masyarakat. Menurut Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia, total jam anak melihat siaran televisi lebih tinggi daripada jam sekolah. Menurut penelitian, anak melihat konten di televisi empat hingga lima jam dan sekitar 30 hingga 35 jam seminggu. Dan jika diakumulasikan dalam setahun, anak bisa menonton televisi sekitar 1.600 jam. Sedangkan jam sekolah selama satu tahun hanya mencapai 740 jam. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak-anak melihat siaran televisi dua kali lipat daripada jam mereka sekolah. Dengan tingginya jam menonton televisi anak-anak, sangat penting untuk mengetahui apakah konten di televisi sudah memenuhi standar ramah anak. Sayangnya, konten televisi di Indonesia semakin hari semakin tidak memperlihatkan konten yang edukatif dan ramah anak.

Konten ramah anak

Konten ramah anak menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati harus mempunyai 3 unsur penting yaitu pertama, harus mementingkan kebutuhan anak sebagai pertimbangan dalam membuat program. Kedua, dapat berkontribusi dalam menangani permasalahan anak dan melindungi dari diskriminasi, kekerasan, eksploitasi, dan perbuatan salah lainnya. Ketiga, dapat mencukupi informasi yang diperlukan anak dalam proses pertumbuhan mereka. Konten ramah anak penting untuk melindungi anak-anak penerus generasi bangsa Indonesia dari penyimpangan kepribadian dan perilaku yang mereka dapatkan dari tontonan yang kurang mendidik seperti meniru adegan kekerasan dalam tayangan televisi yang mereka tonton.

Konten yang menyimpang pada jam nonton anak

Sayangnya, tayangan televisi Indonesia saat ini masih jauh dari kata ‘berkualitas’ dan ‘mendidik’. Ini dapat terlihat pada tayangan sinetron yang sempat viral beberapa waktu lalu. Anak dibawah umur berperan sebagai istri ketiga dalam tayangan sinetron berjudul “Suara Hati Istri”. Beberapa sinetron yang mengandung adegan kekerasan seperti perkelahian dan tawuran sekolah ditayangkan pada saat jam anak menonton siaran televisi. Jika dilihat secara terus menerus oleh anak, kemungkinan anak meniru dan mengaplikasikan apa yang mereka tonton akan semakin meningkat. Hal tersebut akan berakibat fatal terhadap keribadian dan perilaku mereka. Dan sangat bertolak belakang terhadap apa yang dikatakan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Rating menjadi penghambat konten ramah anak

Hal lain yang menjadi penghambat konten ramah anak adalah rating. Rating merupakan pokok permasalahan industri televisi. Menurut pengamat siaran publik Muhamad Heychael, mekanisme industri yang tidak memberikan tempat kepada kualitas diakibatkan karena rating yang diserahkan begitu saja ke pasar. Siaran diukur dari seberapa banyak program itu disukai atau ditonton, bukan dari kualitasnya. Akibatnya para pembuat program televisi berlomba untuk mengejar rating agar mendapat pemasukan dari iklan. Sangat disayangkan kualitas program televisi hanya mengandalkan rating daripada menciptakan program yang berkualitas dan bisa mendidik.

Kesadaran masyarakat yang kurang dalam memilih konten

Kurangnya kesadaran pada masyarakat juga menjadi faktor yang menghambat terwujudnya program televisi ramah anak. Hal tersebut ditegaskan oleh sosiolog Musni Umar yang mengatakan bahwa penyebab konten tidak berkualitas lebih disukai karena sebagian besar penduduk Indonesia berpendidikan rendah. Sejumlah 76% lulusan sekolah dasar menyukai konten yang tidak berkualitas. Tingkat Pendidikan berpengaruh terhadap pikiran kritis masyarakat dalam memilah konten yang akan mereka konsumsi. Jika sebagian masyarakat berpendidikan tinggi dan selektif dalam memilih konten maka program-program televisi yang kurang bermutu akan menghentikan tayangannya. 

 

Penutup 

Konten televisi di Indonesia masih belum bisa dikatakan ramah terhadap anak-anak. Konten yang seharusnya mendidik, memberikan informasi, mendukung kemampuan perkembangan anak masih belum tercapai secara maksimal. Berbagai faktor yang mempengaruhi kualitas program televisi menjadikan masalah ini cukup kompleks untuk diatasi. Namun, bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan mengedukasi masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih konten yang akan mereka konsumsi dan menghilangkan kejar-kejaran rating dalam siaran televisi. Serta mengatur program yang sesuai dengan anak dan disiarkan pada jam yang tepat saat anak menonton maka kita akan mencapai yang dinamakan konten ramah anak. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

bursa escort halkalı escort sisli escort bursa escort bayan istanbul escort mobil porno izle şişli escort escort bayan izmit porno seks sıra bulucu şişli escort anadolu yakası escort ümraniye escort ataşehir escort kartal escort bursa escort escort bursa escort bayan görükle escort eve gelen escort beylikdüzü escort izmir escort porno izle bursa escort www.alcary.com istanbul eskort ümraniye escort ümraniye escort kadıköy escort elit escort temp mail movers near me